Jangan Cibir SMK Swasta, Siswa SMK Al Huda Ikuti
“Road-seeking in China- Shaoguan Lingnan Culture Camp 2015”
![]() |
Anggapan SMK
swasta hanya menjadi sekolah nomor dua sudah saatnya dihilangkan. Setidaknya
bila melihat sepak terjang SMK Al Huda Kediri saat ini. Mereka berulang kali
mengirim siswa berprestasinya ke luar negeri. Terbaru, empat siswa dikirim ke
Tiongkok. Mengikuti program “Road Seeking in China-Shaoguan Lingnan Culture
Camp 2015”.
Keempat siswa tersebut
adalah Nur Azizah, Qais Wifa’ Tajid, Adhe Kuncoro, dan Faisal Fikri Amrullah.
Selama sepuluh hari keempatnya berada di Kota Shaoguan, Provinsi Guangdong
utara.
“Seperti mimpi berada di
Tiongkok,” ungkap Nur Azizah, salah seorang siswa peserta program yang seluruh
biaya ditanggung oleh pihak sekolah tersebut.
“Begitu turun dari pesawat, rasanya tetap seperti mimpi
dan nggak percaya kaki ini menginjak bumi
Tiongkok,” imbuhnya.
Menurutnya, selama ini ia bersama tiga temannya tidak
pernah memimpikan atau berangan-angan pergi ke Tiongkok. Mereka
menilai bisa sampai ke Tiongkok merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari
Yang Maha Kuasa.
“Jangankan membayangkan
Tiongkok, mimpi pun tidak pernah,” ungkap Azizah yang disambut tawa Faisal,
Qais, dan Adhe, rekan-rekannya, yang duduk berderet di sampingnnya.
“SMK Al Huda keren banget.
Bayangkan, semua biaya ditanggung oleh SMK Al Huda, kami juga masih mendapatkan
uang saku,” tambahnya lagi. Rombongan siswa SMK Al Huda berangkat ke Tiongkok
berbarengan dengan rombongan siswa dari SMA Darul Hikam, SMA BPI, dan SMAN
20-ketiganya dari Bandung, Jawa Barat. Total pesertanya 64 siswa.
Namun, berbeda dengan
siswa SMK Al Huda, para siswa dari Bandung tersebut berangkat ke Tiongkok
dengan biaya sendiri. “Katanya, per anak membayar Rp 12 juta. Kami dari SMK Al
Huda gratis, mereka sampai iri melihat kita,” ujar Qais.
Begitu menginjakkan kaki
di Tiongkok, mereka merasa kagum. Salah satunya dengan budaya disiplin dan
kebersihan lingkungannya.
Empat siswa ini butuh
waktu untuk beradaptasi dengan iklim di Tiongkok. Adhe dan Faisal paling cepat
beradaptasi. Hanya dalam waktu sehari keduanya bisa menyesuaikan suhu dingin
yang mencapai 10 derajat celsius. Sedangkan Qais mengaku butuh waktu tiga hari.
Paling lama adalah Nur
Azizah. Cewek cantik kelas XI jurusan multimedia ini membutuhkan waktu lima
hari. “Saya sampai sakit dan satu hari tidak bisa ikut jalan-jalan bersama
teman-teman,” tuturnya.
Para siswa peserta program “Road-seeking in China-
Shaoguan Lingnan Culture Camp 2015” lebih banyak menghabiskan waktu
di Shaoguan University. Di kampus ternama ini mereka banyak belajar mengenai
budaya Tiongkok. Mulai bahasa mandarin, sejarah Tiongkok, kaligrafi, menganyam
benang, hingga tarian tradisional setempat.
Walaupun berusaha untuk
beradaptasi, tetap saja soal makanan yang paling sulit. “Makanan di Tiongkok
rasanya hambar. Nggak sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ungkap Nur Azizah.
Sebelum berangkat,
sejatinya mereka membawa “sangu” perbekalan makanan. Yakni sambal dan saus.
Namun, perbelakan tersebut habis dalam waktu singkat. “Teman-teman dari sekolah
lain banyak yang menyerbu sambal yang kami bawa,” ungkapnya.
Ada kejadian unik yang mereka alami terkait makanan
selama tinggal di Tiongkok. Mereka sering keliru mengambil makanan tidak halal.
“Untung kami sering diingatkan oleh volunteer yang
selalu mendampingi kami,” jelasnya.(odi/fud)
Motor Listriknya Tak Perlu Di-charge
Apa saja oleh-oleh para siswa SMK Al Huda dari Tiongkok
yang bisa dikembangkan di Kediri? Qais Wifa Tajid ternyata tertarik membuat
sepeda motor listrik tanpa menggunakan baterai re-charge. Siswa
kelas XI jurusan teknik sepeda motor ini mengaku terkagum melihat perkembangan
teknologi di Tiongkok.
“Hampir semua motor dan
mobil di Tiongkok menggunakan tenaga listrik. Hanya mobil pengangkut barang
berat dan motor sport saja yang menggunakan bahan bakar minyak,” terangnya.
Selama di Tiongkok, Qais
sering mengamati kendaraan bermotor bertenaga listrik. Bahkan, karena terlalu
sering mengamati kendaraan bermotor, dia sering tertinggal rombongan. Dari
hasil pengamatannya, sepeda motor listrik di Tiongkok tidak perlu di isi ulang.
“Sepeda motor listrik di sana menggunakan generator. Ketika sepeda motor
berjalan, generator hidup dan secara otomatis menghasilkan listrik,” jelasnya.
Sepulang dari Tiongkok,
anak pasangan Rohman Rokim Himawan dan Ariatin ini berambisi membuat sepeda
motor listrik tanpa re-charge itu. “Ini oleh-oleh saya dari Tiongkok yang akan
saya kembangkan di sekolah,” tegasnya mantap.
Ada satu lagi yang sangat dikaguminya dari masyarakat
Tiongkok. Kesadaran dalam berlalu lintas sangat baik. Pengendara mobil sangat
menghargai pengendara motor dan sepeda. “Jika terjadi kecelakaan lalu lintas,
mereka tidak gontok-gontokan
di jalan,” terangnya.
Bagaimana dengan yang lain?
Faisal dan Azizah lebih tertarik dengan desain grafis iklan yang bagus dan bisa
dikembangkan di Kediri. Menurut Faizal, desain iklan di Tiongkok sangat
sederhana tapi enak dipandang. Pesannya pun mengena. Kemasan produk makanan
juga didesain sangat menarik.
Selain itu, Tiongkok
sangat menghargai hasil karya desain iklan. Terbukti, iklan-iklan di pinggir
jalan ditata rapi dengan bentuk sangat menarik.
“Di sini iklan sekadar ditempelkan dan semrawut, mengganggu
pandangan dan keindahan kota. Ini bentuk tidak menghargai karya desain grafis,”
ungkap siswa jurusan multimedia yang juga pernah mengikuti pertukaran pelajar
di Chonburi, Thailand.
Tiongkok juga menjaga
produk dalam negeri. Contohnya, Tiongkok tidak memperbolehkan Google masuk.
Mereka menciptakan sendiri teknologi yang melebihi google, seperti Wea Bo.
Sedangkan Azizah akan
berusaha menularkan virus kebaikan kepada teman dekat, keluarga dan orang-orang
di sekitarnya tentang budaya disiplin dan menjaga kebersihan lingkungan.
Termasuk tidak membuang sampah di sungai. “Di Tiongkok, taman-taman tertata
rapi dan bersih. Juga perbaikan fasilitas unum sangat bagus dan cepat,”
jelasnya.
Adapun Adhe Kuncoro mendapatkan pengalaman bahwa Tiongkok
maju karena rakyatnya yang berduit berkolaborasi dengan orang-orang yang
memiliki ide. “Bagi mereka, melayani itu nomor satu,” katanya.
Bukan hanya kali ini saja SMK Al Huda mengirim siswanya
ke luar negeri. Setiap tahun mereka mengirim siswanya ke luar negeri. SMK Al
Huda juga aktif melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri. Dalam waktu dekat
ini, empat siswa SMK Al Huda juga akan dikirim ke Chonburi, Thailand.
Selain itu, SMK Al Huda
juga telah lama menjalin kerjasama dengan negara-negara di Asia. Di antaranya
dengan Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara lain. Kepala SMK
Al Huda Rahadian Fatawi pun bersiap-siap berangkat ke Nanjing, Shanghai, untuk
menjalin kerja sama dengan pihak setempat. Rencananya, Fawati akan bertolak ke
Nanjing pada 18 – 22 Januari ini. “Tujuan kami menjalin kerja sama dan mengirim
para siswa ke luar negeri dalam rangka untuk mencintai alam dan mencintai
ciptaan Allah,” sebut Rahadian Fatawi. Menurutnya, dengan mencintai dan melihat
ciptaan Allah kita akan berfikir bahwa segala sesuatu sebelum berbentuk melalui
proses. Selain itu, tujuan mengirim anak didiknya ke luar negeri untuk
memberikan pengalaman baru. Termasuk untuk membandingkan dengan pendidikan di
luar negeri. “Kita akan tahu dan bisa mengukur, sekolah kita bisa bersaing apa
tidak dengan mereka. Juga untuk mengukur prestasi dan keilmuan kita sejauh
mana,” urainya.
Selain itu, katanya, dia
ingin menunjukkan bahwa sekolah swasta mampu melakukan dan bersaing dengan
sekolah negeri. “Yang terpenting, jangan mencibir sekolah swasta,” tuturnya.
Selain menjalin kerjasama luar negeri, SMK Al Huda juga
memiliki kelas khusus dengan menggandeng perusahaan swasta. Di antaranya
mendirikan kelas khusus Honda dan kelas khusus Axioo.
Karena Juara LKS SMK Se-Jatim
Bagaimana mekanisme pemilihan para para siswa yang
diberangkatkan ke Tiongkok? Tentu saja, para siswa tersebut adalah yang
terpilih. Mereka berangkat ke Tiongkok berkat prestasi meraih juara LKS SMK
tingkat Provensi Jatim 2015. Di even tahunan yang digelar rutin oleh Dinas
Pendidikan Provinsi Jatim pada 2-5 November 2015 itu, Adhe, sapaan akrab siswa
kelas XII TPM 1 asal Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, meraih juara kedua. Anak
pasangan Mudrik (alm) dan Sri Harini ini meraih medali perak di bidang lomba
CNC Mailing atau pemograman mesin.
Selanjutnya, Faisal, siswa kelas XII Multimedia asal Desa
Tegalan, Kecmatan Kandat, ini meraih juara ketiga. Anak pasangan Ivan Supandi
dan Dewi Azizah ini meraih medali perunggu di bidang lomba Graphic Design Teknology atau desain produk. Adapun Qais,
satu-satunya peserta LKS tingkat Jatim yang kelas XI jurusan
TSM 1 asal Desa Pace Wetan, Kecamatan Pace, Nganjuk, ini meraih juara harapan
ketiga. Anak pasangan Rohman Rokib Himawan dan Ariatin ini meraih juara harapan
ketiga di bidang lomba teknik sepeda motor.
Ketiga siswa SMK Al Huda
tersebut mewakili Kota Kediri di ajang LKS tingkat SMK se-Jatim. Prestasi yang
diraih ketiga siswa SMK Al Huda ini membuktikan kualitas sekolah swasta tidak
kalah dengan sekolah negeri. “Prestasi yang diraih anak-anak SMK Al Huda di
ajang LKS tingkat Jatim ini sangat membanggakan bagi kami,” kata Kepala SMK Al
Huda Rahadian Fatawi.
Prestasi tersebut lebih
membanggakan karena SMK Al Huda merupakan satu-satunya sekolah swasta dari
kota/kabupaten se-Jatim yang mengikuti LKS SMK ke-XXIV tingkat Provisi Jatim
tahun 2015. LKS tingkat SMK selama ini selalu didominasi sekolah negeri.
Bahkan, sekolah negeri yang selalu meraih juara. Tapi, pada LKS SMK tingkat
Jatim tahun 2015 ini, sekolah swasta bisa mengungguli sekolah-sekolah negeri.
Berkat keberhasilannya,
Kepala SMK Al Huda Rahadian Fatawi mengganjar hadiah istimewa kepada ketiga
muridnya. Adhe, Faisal, dan Qais, ke Tiongkok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar