Rabu, 16 Maret 2016

Hot News Smk al-huda 2

Jangan Cibir SMK Swasta, Siswa SMK Al Huda Ikuti “Road-seeking in China- Shaoguan Lingnan Culture Camp 2015”






Anggapan SMK swasta hanya menjadi sekolah nomor dua sudah saatnya dihilangkan. Setidaknya bila melihat sepak terjang SMK Al Huda Kediri saat ini. Mereka berulang kali mengirim siswa berprestasinya ke luar negeri. Terbaru, empat siswa dikirim ke Tiongkok. Mengikuti program “Road Seeking in China-Shaoguan Lingnan Culture Camp 2015”.
Keempat siswa tersebut adalah Nur Azizah, Qais Wifa’ Tajid, Adhe Kuncoro, dan Faisal Fikri Amrullah. Selama sepuluh hari keempatnya berada di Kota Shaoguan, Provinsi Guangdong utara.
“Seperti mimpi berada di Tiongkok,” ungkap Nur Azizah, salah seorang siswa peserta program yang seluruh biaya ditanggung oleh pihak sekolah tersebut.
“Begitu turun dari pesawat, rasanya tetap seperti mimpi dan nggak percaya kaki ini menginjak bumi Tiongkok,” imbuhnya.
Menurutnya, selama ini ia bersama tiga temannya tidak pernah memimpikan  atau berangan-angan pergi ke Tiongkok. Mereka menilai bisa sampai ke Tiongkok merupakan sebuah anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa.   
“Jangankan membayangkan Tiongkok, mimpi pun tidak pernah,” ungkap Azizah yang disambut tawa Faisal, Qais, dan Adhe, rekan-rekannya, yang duduk berderet di sampingnnya.
“SMK Al Huda keren banget. Bayangkan, semua biaya ditanggung oleh SMK Al Huda, kami juga masih mendapatkan uang saku,” tambahnya lagi. Rombongan siswa SMK Al Huda berangkat ke Tiongkok berbarengan dengan rombongan siswa dari SMA Darul Hikam, SMA BPI, dan SMAN 20-ketiganya dari Bandung, Jawa Barat. Total pesertanya 64 siswa.
Namun, berbeda dengan siswa SMK Al Huda, para siswa dari Bandung tersebut berangkat ke Tiongkok dengan biaya sendiri. “Katanya, per anak membayar Rp 12 juta. Kami dari SMK Al Huda gratis, mereka sampai iri melihat kita,” ujar Qais.
Begitu menginjakkan kaki di Tiongkok, mereka merasa kagum. Salah satunya dengan budaya disiplin dan kebersihan lingkungannya.
Empat siswa ini butuh waktu untuk beradaptasi dengan iklim di Tiongkok. Adhe dan Faisal paling cepat beradaptasi. Hanya dalam waktu sehari keduanya bisa menyesuaikan suhu dingin yang mencapai 10 derajat celsius. Sedangkan Qais mengaku butuh waktu tiga hari.
Paling lama adalah Nur Azizah. Cewek cantik kelas XI jurusan multimedia ini membutuhkan waktu lima hari. “Saya sampai sakit dan satu hari tidak bisa ikut jalan-jalan bersama teman-teman,” tuturnya.
Para siswa peserta program “Road-seeking in China- Shaoguan Lingnan Culture Camp 2015” lebih banyak menghabiskan waktu di Shaoguan University. Di kampus ternama ini mereka banyak belajar mengenai budaya Tiongkok. Mulai bahasa mandarin, sejarah Tiongkok, kaligrafi, menganyam benang, hingga tarian tradisional setempat.
Walaupun berusaha untuk beradaptasi, tetap saja soal makanan yang paling sulit. “Makanan di Tiongkok rasanya hambar. Nggak sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ungkap Nur Azizah.
Sebelum berangkat, sejatinya mereka membawa “sangu” perbekalan makanan. Yakni sambal dan saus. Namun, perbelakan tersebut habis dalam waktu singkat. “Teman-teman dari sekolah lain banyak yang menyerbu sambal yang kami bawa,” ungkapnya.
Ada kejadian unik yang mereka alami terkait makanan selama tinggal di Tiongkok. Mereka sering keliru mengambil makanan tidak halal. “Untung kami sering diingatkan oleh volunteer yang selalu mendampingi kami,” jelasnya.(odi/fud)
Motor Listriknya Tak Perlu Di-charge
Apa saja oleh-oleh para siswa SMK Al Huda dari Tiongkok yang bisa dikembangkan di Kediri? Qais Wifa Tajid ternyata tertarik membuat sepeda motor listrik tanpa menggunakan baterai re-charge. Siswa kelas XI jurusan teknik sepeda motor ini mengaku terkagum melihat perkembangan teknologi di Tiongkok.
“Hampir semua motor dan mobil di Tiongkok menggunakan tenaga listrik. Hanya mobil pengangkut barang berat dan motor sport saja yang menggunakan bahan bakar minyak,” terangnya.
Selama di Tiongkok, Qais sering mengamati kendaraan bermotor bertenaga listrik. Bahkan, karena terlalu sering mengamati kendaraan bermotor, dia sering tertinggal rombongan. Dari hasil pengamatannya, sepeda motor listrik di Tiongkok tidak perlu di isi ulang. “Sepeda motor listrik di sana menggunakan generator. Ketika sepeda motor berjalan, generator hidup dan secara otomatis menghasilkan listrik,” jelasnya.
Sepulang dari Tiongkok, anak pasangan Rohman Rokim Himawan dan Ariatin ini berambisi membuat sepeda motor listrik tanpa re-charge itu. “Ini oleh-oleh saya dari Tiongkok yang akan saya kembangkan di sekolah,” tegasnya mantap.
Ada satu lagi yang sangat dikaguminya dari masyarakat Tiongkok. Kesadaran dalam berlalu lintas sangat baik. Pengendara mobil sangat menghargai pengendara motor dan sepeda. “Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, mereka tidak  gontok-gontokan di jalan,” terangnya.
Bagaimana dengan yang lain? Faisal dan Azizah lebih tertarik dengan desain grafis iklan yang bagus dan bisa dikembangkan di Kediri. Menurut Faizal, desain iklan di Tiongkok sangat sederhana tapi enak dipandang. Pesannya pun mengena. Kemasan produk makanan juga didesain sangat menarik.
Selain itu, Tiongkok sangat menghargai hasil karya desain iklan. Terbukti, iklan-iklan di pinggir jalan ditata rapi dengan bentuk sangat menarik.
“Di sini iklan sekadar ditempelkan dan semrawut, mengganggu pandangan dan keindahan kota. Ini bentuk tidak menghargai karya desain grafis,” ungkap siswa jurusan multimedia yang juga pernah mengikuti pertukaran pelajar di Chonburi, Thailand.
Tiongkok juga menjaga produk dalam negeri. Contohnya, Tiongkok tidak memperbolehkan Google masuk. Mereka menciptakan sendiri teknologi yang melebihi google, seperti Wea Bo.
Sedangkan Azizah akan berusaha menularkan virus kebaikan kepada teman dekat, keluarga dan orang-orang di sekitarnya tentang budaya disiplin dan menjaga kebersihan lingkungan. Termasuk tidak membuang sampah di sungai. “Di Tiongkok, taman-taman tertata rapi dan bersih. Juga perbaikan fasilitas unum sangat bagus dan cepat,” jelasnya.
Adapun Adhe Kuncoro mendapatkan pengalaman bahwa Tiongkok maju karena rakyatnya yang berduit berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki ide. “Bagi mereka, melayani itu nomor satu,” katanya. 

Bukan hanya kali ini saja SMK Al Huda mengirim siswanya ke luar negeri. Setiap tahun mereka mengirim siswanya ke luar negeri. SMK Al Huda juga aktif melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri. Dalam waktu dekat ini, empat siswa SMK Al Huda juga akan dikirim ke Chonburi, Thailand.

Selain itu, SMK Al Huda juga telah lama menjalin kerjasama dengan negara-negara di Asia. Di antaranya dengan Korea, Jepang, Malaysia, Thailand, dan sejumlah negara lain. Kepala SMK Al Huda Rahadian Fatawi pun bersiap-siap berangkat ke Nanjing, Shanghai, untuk menjalin kerja sama dengan pihak setempat. Rencananya, Fawati akan bertolak ke Nanjing pada 18 – 22 Januari ini. “Tujuan kami menjalin kerja sama dan mengirim para siswa ke luar negeri dalam rangka untuk mencintai alam dan mencintai ciptaan Allah,” sebut Rahadian Fatawi. Menurutnya, dengan mencintai dan melihat ciptaan Allah kita akan berfikir bahwa segala sesuatu sebelum berbentuk melalui proses. Selain itu, tujuan mengirim anak didiknya ke luar negeri untuk memberikan pengalaman baru. Termasuk untuk membandingkan dengan pendidikan di luar negeri. “Kita akan tahu dan bisa mengukur, sekolah kita bisa bersaing apa tidak dengan mereka. Juga untuk mengukur prestasi dan keilmuan kita sejauh mana,” urainya.
Selain itu, katanya, dia ingin menunjukkan bahwa sekolah swasta mampu melakukan dan bersaing dengan sekolah negeri. “Yang terpenting, jangan mencibir sekolah swasta,” tuturnya.
Selain menjalin kerjasama luar negeri, SMK Al Huda juga memiliki kelas khusus dengan menggandeng perusahaan swasta. Di antaranya mendirikan kelas khusus Honda dan kelas khusus Axioo. 
  
Karena Juara LKS SMK Se-Jatim
Bagaimana mekanisme pemilihan para para siswa  yang diberangkatkan ke Tiongkok? Tentu saja, para siswa tersebut adalah yang terpilih. Mereka berangkat ke Tiongkok berkat prestasi meraih juara LKS SMK tingkat Provensi Jatim 2015. Di even tahunan yang digelar rutin oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jatim pada 2-5 November 2015 itu, Adhe, sapaan akrab siswa kelas XII TPM 1 asal Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, meraih juara kedua. Anak pasangan Mudrik (alm) dan Sri Harini ini meraih medali perak di bidang lomba CNC Mailing atau pemograman mesin.
Selanjutnya, Faisal, siswa kelas XII Multimedia asal Desa Tegalan, Kecmatan Kandat, ini meraih juara ketiga. Anak pasangan Ivan Supandi dan Dewi Azizah ini meraih medali perunggu di bidang lomba Graphic Design Teknology atau desain produk. Adapun Qais, satu-satunya peserta LKS tingkat Jatim yang kelas XI  jurusan TSM 1 asal Desa Pace Wetan, Kecamatan Pace, Nganjuk, ini meraih juara harapan ketiga. Anak pasangan Rohman Rokib Himawan dan Ariatin ini meraih juara harapan ketiga di bidang lomba teknik sepeda motor.
Ketiga siswa SMK Al Huda tersebut mewakili Kota Kediri di ajang LKS tingkat SMK se-Jatim. Prestasi yang diraih ketiga siswa SMK Al Huda ini membuktikan kualitas sekolah swasta tidak kalah dengan sekolah negeri. “Prestasi yang diraih anak-anak SMK Al Huda di ajang LKS tingkat Jatim ini sangat membanggakan bagi kami,” kata Kepala SMK Al Huda Rahadian Fatawi.
Prestasi tersebut lebih membanggakan karena SMK Al Huda merupakan satu-satunya sekolah swasta dari kota/kabupaten se-Jatim yang mengikuti LKS SMK ke-XXIV tingkat Provisi Jatim tahun 2015. LKS tingkat SMK selama ini selalu didominasi sekolah negeri. Bahkan, sekolah negeri yang selalu meraih juara. Tapi, pada LKS SMK tingkat Jatim tahun 2015 ini, sekolah swasta bisa mengungguli sekolah-sekolah negeri.
Berkat keberhasilannya, Kepala SMK Al Huda Rahadian Fatawi mengganjar hadiah istimewa kepada ketiga muridnya. Adhe, Faisal, dan Qais, ke Tiongkok.

Hot News SMK Al-Huda


Burung Hantu Juga Hadiri School Contest 9 Radar Kediri


Pengunjung Berfoto dengan burung hantu

KEDIRI KABUPATEN- School Contest IX memang tak henti-hentinya menghadirkan kejutan-kejutan yang membuat menarik mata pengunjung. Salah satu peserta perang mading School Contest IX bernama Joko(17) dari SMK Al-Huda Kediri, membawakan seekor burung hantu yang masih kecil.

Joko mengaku telah memelihara burung hantu itu kurang lebih satu setengah bulan. Awalya Ia menemukan burung hantu mungil itu ketika Joko pulang disuatu malam, ketika sampai di sawah dekat rumahnya, “Saya mendengar ada suara yang aneh dari sawah, akhirnya saya hampiri dan ternyata ada seekor burung hantu mungil nan imut,” ungkap Joko. Ia pun memutuskan untuk memelihara burung hantu itu sampai sekarang ini.

Perawatan burung hantu tidaklah sulit, cukup diberi makan jangkrik dan diberi minum air putih biasa. Joko tidak mengurung burung hantunya dikarenakan rasa belas kasihan kepadanya.

Dengan Joko membawa burung hantunya ke area School Contest IX ini membuat pengunjung berantusias untuk foto dengan burung tersebut. Walau ada beberapa orang yang takut dengan burung tersebut. Niatnya hanyalah untuk menarik pengunjung, “Saya membawa Burung Hantu ini tidak lain adalah untuk menarik pengunjung juga kita kan tahu sendiri kalau logo School Contest IX adalah burung hantu atau owl,” terang Joko, Pemilik Burung Hantu.

Selasa, 15 Maret 2016